Artikel ini lanjutan dari pembahasan sebelumnya yang sama membahas kisah dari Perang Khandaq
Muslimin terus menggali parit tanpa henti sepanjang siang, ketika sore hari mereka pulang ke rumahnya menemui keluarga. Hingga penggalian parit itu selesai sebagaimana rencana semula sebelum pasukan paganis yang jumlahnya tidak terkira banyaknya tiba di pinggiran Madinah.
Pasukan musuh Quraisy yang diperkirakan berkekuatan empat ribu personil tiba di Mujtam’ul Asyal bilangan Rumat, tepatnya diantara Juruf dan Za’abah. Sedangkan kabilah Ghathafan dan penduduk Najd yang kekuatannya enam ribu personil itu tiba Dzanab dekat dengan Uhud.
”Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasulnya kepada kita, Dan, benarlah Allah dan Rasulnya. Dan, yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab 22)
Sedangkan orang-orang munafik dan orang-orang yang jiwanya lemah, langsung menggigil sangat ketakutan saat melihat pasukan yang sangat banyak dan besar itu.
“Dan ingatlah, ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘ Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al-Ahzab 12)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadapi musuh dengan kekuatan tiga ribu personil, dibelakang pasukan terdapat Gunung Sal’un yang dapat dijadikan pelindung. Sedangkan parit yang dibuat membatasi posisi mereka dengan pasukan musuh. Madinah diwakilkan kepada Ibnu Ummi Maktum. Kaum wanita dan anak-anak Madinah ditempatkan di rumah khusus sebagai perlindungan untuk mereka.
Ketika tibanya pasukan musuh dipinggiran Madinah, mereka dengan segera hendak melancarkan serbuan ke arah pasukan Muslim dan menyerang Madinah, ternyata mereka dihadapkan dengan galian parit yang dibuat orang-orang Muslim. Dengan begitu mereka memutuskan untuk mengepung orang-orang Muslim, yang sebelumnya tidak ada dalam rencana mereka untuk pengepungan. Penggalian parit ini merupakan siasat perang yang belum dikenali oleh masyarakat Arab saat itu, mereka juga tidak pernah menduga akan dihadapkan dengan galian parit tersebut.
Pasukan musuh hanya bisa berputar-putar disekitaran parit dengan amarah yang menggelegar, mereka terus mencari celah titik lemah yang bisa dimanfaatkan. Sedangkan pasukan Muslim terus mengawasi setiap gerak dari musuh disebrang parit, sesekali pasukan Muslim melontarkan anak panah kepada musuh yang berani mendekati parit apalagi berusaha melewatinya.
Pasukan berkuda dari Quraisy merasa jengkel hanya bisa berputar-putar disekitar parit tanpa ada kejelasan bagaimana kelanjutan dari pengepungan ini. Sehingga muncul dari kelompok mereka seperti, Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl, Dhirar bin Al-khaththab dan yang lainnya mendapatkan lubang parit yang sempit. Mereka terjun melewati parit, lalu memutar kuda mereka kea rah bagian yang lebih lembab, antara parit dan Gunung Sal’un. Ali bin Abi Thalib bersama beberapa orang Muslim langsung mengepungdaerah yang dapat dilewati beberapa pasukan musuh itu.
Amr bin Abi Wudd menantang untuk adu tanding satu lawan satu, tantangan itu diladeni oleh Ali bin Abi Thalib sebari melontarkan perkataan yang membuat Amr marah. Amr adalah pahlawan bagi pasukan musuh, dia dikenal sebagai prajurit yang pemberani. Keduanya perputar-putar kemudian bertanding dengan seru, yang akhirnya Amr terbunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Dengan kalahnya Amr, musuh yang bersama Amr itu sangat ketakutan sampai-sampai Ikrimah bin Abu Jahl meninggalkan tombaknya saat melarikan diri dari hadapan Ali bin Abi Thalab beserta prajurit Muslim yang lainnya.
Berhari-hari pasukan musuh terus berusaha dengan berbagai cara membuat jalur penyebrangan supaya bisa melewati parit, tetapi pasukan Muslim tidak berhenti melakukan perlawanan dan menyerang pasukan musuh dengan anak panah. Sehingga berbagai macam cara musuh untuk melewati parit gagal.
Dapat disimpulkan bahwa upaya musuh untuk menyebrangi parit dan serangan pasukan Muslim berjalan hingga beberapa hari. Karena ada parit yang menghalangi mereka, maka tidak sampai terjadi pertempuran dana du senjata secara berhadapan langsung. Peperangan terbatas hanya dengan melepaskan serangan anak panah. Meskipun begitu, ada beberapa orang dari kedua pasukan yang menjadi koran. Enam orang dari pasukan Muslim, dan sepuluh orang dari pasukan Musyrikin. Dan satu dua orang yang terbunuh karena tebasan pedang.
Pada saat pasukan Muslim menghadapi kepungan yang amat keras ini, ular-ular berbisa yang biasa melakukan konspirasi dan berkhianat sedang menggeliat di dalam lubangnya, siap menyemburkan bisanya ke tubuh pasukan Muslim. Tokoh penjahat Bani Nadhir (Huyai bin Akhthab) datang ke perkampungan Bani Quraizhah. Dia menemui Ka’b bin Asad Al-Qurazi pemimpin Bani Quraizhah, sekutu dan rekannya. Padahal dia sudah membuat perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk tidak menolong siapa pun yang hendak memerangi beliau. Huyai menggedor pintu banteng Ka’b, tetapi Ka’b tidak mau membukanya. Sampai dengan Huyai terus mendessak, Ka’b pun membuka pintunya.
Huyai berkata, “Aku menemuimu Ka’b dengan membawa kejayaan masa lalu dan lautan yang mempesona. Aku datang kepadamu bersama Quraisy,pemimpin dan pemuka mereka, sehingga aku menyuruh mereka bermarkas di Majma’ul Asyal di bilangan Rumat. Sedangkan Ghathafan dengan semua pemimpinnya aku suruh bermarkas di Dzanab Naqami dekat Uhud. Mereka semua sudah berjanji dan bersumpah kepadaku untuk tidak pulang sebelum membinasakan Musammad dan para pengikutnya.”
Ka’b menjawab, “Demi Allah, engkau datang kepadaku sambal membawa kebinasaan masa lalu dana wan yang sangat kering. Awan itu mengeluarkan kiat dan petir, tetapi kosong melompong. Celaka engkau wahai Huyai. Tinggalkan aku dan urusanku! Aku tidak melihat diri Muhammad melainkan sosok yang jujur dan menepati janji.”
Huyai terus membujuk dan merayu Ka’b, sampai akhirnya Huyai bersumpah atas nama Allah dan berjanji, “jika orang-orang Quraisy dan Ghathafan mundur, mereka tidak jadi menyerang Muhammad, maka aku akan bergabung denganmu didalam bentengmu, dan aku siap menanggung akibatnya bersamamu.”
Jadilah Ka’b melanggar perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia sudah melepaskan ikatan dengan orang-orang Muslim. Dan bergabung dengan pasukan Musyrikin untuk memerangi pasukan Muslimin.
Ketika itu pula orang-orang Yahudi bangkit untuk memerangi pasukan Muslim. Ibnu Ishaq menuturkan, “Shafiyah binti Abdul Muthalib berada dalam satu bilik banteng yang dikhusukan bagi para wanita Muslimah dan anak-anak, yang dijaga Hasan bin Tsabit. Ada seorang laki-laki Yahudi melewati tempat kami, lalu mengelilingi banteng kami. Sementara semua Yahudi Bani Quraizhah maju untuk berperang dan melanggar perjanjian. Tidak ada orang-orang Muslim yang menjaga kami, karena mereka bersama Rasulullah sedang berhadapan dengan musuh yang tidak mungkin mereka mundur ke tempat kamidan meninggalkan pos mereka jika ada orang yang menyerang kami. Kukatakan pada Hasan, wahai Hasan seperti yang engkau lihat, orang Yahudi mengitari banteng. Demi Allah aku merasa tidak aman jika dia menunjukan titik lemah kita dari belakang kepada pasukan Musuh, sedangkan Rasulullah bersama sahabat yang lain tidak sempat mengurus kita. Maka hampirilah orang itu dan bunuh dia.
"Demi Allah, engkau tahu sendiri bahwa aku bukanlah orang yang mahir dalam masalah bunuh membunuh," jawab Hasan.
"Shafiyah berkata, lalu kuikat pinggangku lalu kuambil sepotong tiang penyangga, lalu aku turun dari banteng untuk menghampiri orang Yahudi itu. Potongan tiang itu ku pukulkan ketubuh orang Yahudi itu sampai mati, setelah itu aku kembali lagi ke banteng."
Tindakan yang berani dari bibi Rasulullah ini mempunyai pengaruh yang amat mendalam untuk menjaga para wanita dan anak-anak Muslimin. Sebab selama itu orang-orang Yahudi menduga rumah penampungan dan banteng bagi para wanita dan anak-anak dijaga ketat oleh pasukan Muslim. Padahal nyatanya sama sekali tidak ada penjagaan yang ketat disana, karena dugaan itu mereka tidak berani melakukan serangan ke banteng itu. Mereka juga tidak berani terang-teangan melakukan serangan terhadap pasukan Muslim, hanya mengulurkan bantuan kepada pasukan musuh Muslim dengan memasok bahan makanan selama pasukan musuh berada disekitaran Madinah. Tetapi pasokan itu juga bisa diambil pasukan Muslim sebanyak dua puluh unta.
Kabar tindakan orang-orang Yahudi terdengar oleh rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pasukan Muslim. Maka dengan segera beliau memastikan kebenaran kabar tersebut, beliau meminta keterangan langsung dari Bani Quraizhah agar dapat segera diambil tindakan secara militer. Beliau mengutus Sa’d bin Mu’adz, Sa’d bin Ubadah, Abdullah bin Rawahah, dan Khawwat bin Jubair. Beliau bersabda kepada para utusan ini, “pergilah kesana dan cari tahu apakah benar kabar yang didengar dari mereka ini ataukah tidak? Jika kabar itu benar, beritahukan kepadaku hanya dengan melalui isyarat saja, agar tidak mematahkan semangat pasukan Muslim, jika mereka menepati janjinya, bolehlah kalian memberitahukan kepada orang-orang.”
Para utusan itu pulang, lalu mengisyaratkan keadaan mereka kepada Rasulullah dengan berkata, “Adhal dan Qarah” artinya orang-orang Yahudi itu seperti Bani Adhal dan Qarah yang melanggar perjanjian.
Sekalipun para utusan itu memberitahukan kepada Rasululah keadaan Yahudi dengan sebuah isyarat, sebagian psukan Muslim ada yang bisa menangkapnya dan membuat mereka merasa bahwa keadaan benar-benar gawat.
Situasi ini yang sangat rawan yang pernah dihadapi pasukan Muslim , posisi Muslim dengan posisi Yahudi bani Quraizhah tidak terhalang sedikitpun, andaikan mereka memukul dari belakang. Sementara dihadapan mereka ada segelar pasukan musuh yang tidak bisa ditinggalkan, tempat penampungan para wanita dan anak-anak Musim tidak jauh dari posisi Yahudi Bani Quraizhah yang berkhianat. Apalagi tempat itu tanpa pasukan pengamanan yang berjaga.
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (Al-Ahzab 10-11)
Kemunafikan orang-orang munafik juga mulai muncul kepermukaan. Sebagian dari mereka ada yang berkata, “Kemarin Muhammad berjanji kepada kami bahwa kami akan mengambil harta simpanan Kisra dan Qaishar. Sementara hari ini tidak ada seorang pun diantara kami yang merasa aman terhadap dirinya, sekalipun untuk buang hajat.
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya". Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (Al-Ahzab 12-13)
Setelah mendengar pengkhianatan Yahuda Bani Quraizhah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggelar kainnya lalu tidur terlentang, diam sekian lama, hingga orang-orang Muslim mendapat ujian yang ccukup berat. Namun tidak lama kemudian membersit harapan, Beliau bangkit sambal berseru, “Allahu Akbar. Bergembiralah wahai orang-orang Muslim dengan kemenangan dan pertolongan Allah.”
Kemudian beliau merancang beberapa strategi untuk menghadapi situasi yang sangat rawan ini. Salah satu strategi yang beliau canangkan adalah dengan mengutus beberapa penjaga ke Madinah untuk menjaga para wanita dan anak-anak. Tetapi sebelumnya harus ada upaya untuk mengacaukan pasukan musuh. Untuk memuluskan rencana ini, beliau hendak melakukan perjanjian dengan Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin Auf, dua pemimpin Ghathafan, bahwa beliau akan menyerahkan sepertiga hasil panin kurma di Madinah kepada mereka, asal mereka berdua mau mengundurkan diri dari kancah bersama kaumnya, lalu membiarkan beliau menghantam Quraisy dan menghancurkan kekuatan mereka. Terjadi tawar menawar yang ccukup alot. Lalu beliau meminta pendapat Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubaidah tentang rencana ini.
Keduanya berkata, “Wahai Rasulullah, jika Allah memerintahkan engkau untuk mengambil keputusan seperti ini, maka kami akan tunduk dan patuh. Tetapi jika ini merupakan keputusan yang hendak engkau ambil dari kami, maka kami tidak membutuhkannya. Dulu kami dami dan mereka sama menyekutukan Allah dan menyembah berhala. Dulu mereka tidak berhasrat memakan sebuah kurma pun dari Madinah kecuali lewat jual beli atau sedang dijamu. Setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dan memberi petunjuk Islam serta menjadi jaya bersama engkau, mengapa kami harus memberikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka kecuali pedang.”
Beliau membenarkan pendapat mereka berdua, dan bersabda, “Ini adalah pendapatku sendiri. Sebab aku melihat semua orang Arab sedang menyerang kalian dengan satu busur.”
Kemudian Allah membuat suatu keputusan dari sisi-Nya yang mampu menghinakan musuh-Nya, mengacaukan semua barisan mereka serta menceraiberaikan persatuan mereka. Di antara langkah permulaanya, ada seseorang dari Ghathafan yang bernama Nu’aim bin Mas’ud bin Amir Al-Asja’I yang menemui Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apa pun yang engkau kehendaki.”
“engkau adalah orang satu-satunya,” sabda beliau “berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat.”
Tidak lama dari itu Nu’aim pergi menemui Yahudi Bani quraizhah, yang menjadi teman karibnya semasa jahiliyah. Dia menemui mereka dan berkata, “Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dan kalian.”
“engkau benar.” Kata mereka
Nu’aim berkata, “Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini adalah milik kalian. Di sini ada harta benda, anak dan istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan negeri ini dan pindah ke tempat lain. Sementara Quraisy dan Ghathafan datang ke tempat ini untuk memerengi Muhammad dan pasukan Muslim, lalu kalian menampakan dukungan kepada mereka. Padahal negeri, harta benda, dan wanita-wanita mereka berada ditempat lain. Jika mereka mendapat kesempatan, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan pergi ke negeri mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad yang akan melampiaskan dendam kepada kalian.”
“lalu bagaimana baiknya, Nu’aim?” Tanya mereka
“kalian tidak perlu berperang bersama mereka kecuali setelah memberikan jaminan kepada kalian,” jawab Nu’aim
“engkau telah memberikan jawaban yang sangat tepat.” Jawab mereka
Setelah itu Nu’aim langsung menemui Quraisy dan berkata kepada mereka , “kalian sudah tahu ccintaku pada kalian dan nasihat-nasihat yang pernah aku berikan?”
“begitulah,” jawab mereka
Dia berkata lagi, “Rupanya Yahudi merasa menyesal karena telah melanggar perjanjian dengan Muhammad dan pasukan Muslim. Secara diam-diam mereka mengirim utusan untuk menemui Muhammad bahwa mereka hendak meminta jaminan kepada kalian, lalu jaminan itu akan mereka serahkan kepada Muhammad, yang tentu saja mereka berpaling dari kalian. Jika mereka meminta jaminan, kalian tidak perlu memberikannya kepada mereka.”
Kemudian Nu’aim pergi lagi menemui orang-orang Ghathafan dan berkata seperti yang dikatakan kepada orang-orang Quraisy
Tepatnya malam sabtu, bulan syawwal 5H, orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk menemui Yahudi, menyampaikan pesan, “Kami tidak mungkin berlama-lama disini. Apalagi kondisi unta dan kuda kami sudah banyak yang merosot. Maka bangkitlah saat ini bersama kami untuk menghabisi Muhammad dan pasukan Muslim.”
Yahudi pun mengirim pasukan kepada Quraisy seraya menyampaikan pesan, “Hari ini adalah hari sabtu. Kalian sudah tahu akibat yang menimpa orang-orang sebelum kami yang mereka berperang pada hari ini. Di samping itu kami tidak mau berperang bersama kalian kecuali setelah kalian menyampaikan jaminan kepada kami.”
Setelah mengetahui apa yang disampaikan Yahudi kepada Quraisy dan Ghathafan mereka berkata, “Demi Allah, benar apa yang dikatakan Nu’aim kepada kalian.” Lalu mereka mengirimkan lagi utusan kepada Yahudi, menyampaikan pesan, “Demi Allah, kami tidak akan mengirim seorang pun kepada kalian. Bergabunglah bersama kami untuk menghabisi Muhammad.”
Bani Quraizhah berkata, “Demi Allah, benar apa yang dikatakan Nu’aim kepada kalian.”
Dengan begitu Nu’aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan mencciptakan perpecahan dibarisan musuh, sehingga semangat mereka turun drastic.
Sementara pasukan Muslim selalu berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami.”
Do’a Rasulullah untuk kemalangan musuh Muslim, “Ya Allah, yang menurunkan Al-Kitab dan yang ccepat hisabnya, kalahkanlah pasukan musuh. Ya Allah, kalahkanlah dan guncangkanlah mereka.”
Allah mendengar do’a Rasulullah dan pasukan Muslim. Setelah muncul perpecahan di barisan musuh dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan pasukan berupa angina topan kepada musuh Muslim, sehingga kemah-kemah mereka porak poranda. Tidak ada satupun yang tegak menancap, semuanya ambruk dan binasa. Tidak ada seorangpun dari ribuan pasukan musuh Muslim yang beridiri tegar disana. Allah mengirim pasukan yang terdiri dari para Malaikat yang membuat mereka menjadi gentar dan kacau, menyusupkan ketakutan kepada hati mereka.
![]() |
| Perang Khandaq II |
Pada malam yang sangat dingin dan menusuk tulang itu, Rasulullah mengutus khudzhaifah bin Al-Yaman untuk menemui Quraisy dan kembali lagi membawa kabar tentang keadan mereka seperti apa. Kabar yang disampaikan Hudzaifah kepada Rasulullah, bahwa mereka sudah bersiap-siap untuk kembali pulang ke Makkah. Esok harinya beliau mendapatkan kabar bahwa musuh sudah diusir Allah dan hengkang dari tempatnya, tanpa membawa keuntungan apa-apa. Cukuplah Allah yang memerangi mereka, memenuhi janji-Nya, memuliakan pasukan-Nya, menolong hamba-Nya dan hanya menimpakan kekalahan kepada musuh. Setelah itu beliau kembali lagi ke Madinah beserta pasukan Muslimin.
Dari pendapat yang lebih kuat, bahwa Perang Khandaq ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah bulan Syawwal. Pengepungan musyrikin terjadi selama sebulan penuh atau mendekati itu, permulaan pengepungan pada bulan Syawwal dan berakhir pada bulan Dzul Qa’dah.
Menurut riwayat Ibnu Sa’d, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali dari khandaq pada hari Rabu seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qadah.
Perang Khandaq atau Ahzab bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian, tetapi merupakan perang urat syaraf. Di sini tidak ada pertempuran yang luar biasa, tetapi dalam sejarah Islam ini merupakan peperangan yang sangat menegangkan, yang berakhir dengan pelecehan di pihak pasukan musyrikin dan memberi kesan bahwa kekuatan sebesar apa pun yang ada di Arab tidak akan sanggup melumatkan kekuatan yang lebih kecil yang sedang mekar di Madinah. Sebab bangsa Arab tidak sanggup menghimpun kekuatan yang lebih besar daripada pasukan Ahzab ini. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, tatkala Allah sudah mengalahkan pasukan musuh. “Sekarang kitalah yang ganti menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita. Kitalah yang akan mendatangi mereka.”
Sumber dari buku karangan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri yang berjudul SIRAH NABAWIYAH
Dari pendapat yang lebih kuat, bahwa Perang Khandaq ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah bulan Syawwal. Pengepungan musyrikin terjadi selama sebulan penuh atau mendekati itu, permulaan pengepungan pada bulan Syawwal dan berakhir pada bulan Dzul Qa’dah.
Menurut riwayat Ibnu Sa’d, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali dari khandaq pada hari Rabu seminggu sebelum habisnya bulan Dzul Qadah.
Perang Khandaq atau Ahzab bukan merupakan peperangan yang menimbulkan kerugian, tetapi merupakan perang urat syaraf. Di sini tidak ada pertempuran yang luar biasa, tetapi dalam sejarah Islam ini merupakan peperangan yang sangat menegangkan, yang berakhir dengan pelecehan di pihak pasukan musyrikin dan memberi kesan bahwa kekuatan sebesar apa pun yang ada di Arab tidak akan sanggup melumatkan kekuatan yang lebih kecil yang sedang mekar di Madinah. Sebab bangsa Arab tidak sanggup menghimpun kekuatan yang lebih besar daripada pasukan Ahzab ini. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, tatkala Allah sudah mengalahkan pasukan musuh. “Sekarang kitalah yang ganti menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita. Kitalah yang akan mendatangi mereka.”
Sumber dari buku karangan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri yang berjudul SIRAH NABAWIYAH






0 komentar:
Post a Comment