Perang Khandak yaitu sebuah nama pertempuran/perang yang terjadi pada ummat Muslimin ketika berada di Madinah, dinamakan perang Khandak berasal dari kata Persia yaitu “Kandak” mempunyai arti yang telah digali. Parit, adalah yang dimaksud dari khandaq, muslimin menggali parit untuk menjaga Madinah dari kepungan musuh. Perang khandak juga dinamai perang ahzab, yang mempunyai arti perang konfederasi. Sekumpulan musuh Nabi Muhammad bersatu dari tiap kabilah diantaranya Quraisy, Yahudi, Kafir. Dengan satu tujuan menyerang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam dan ummat Muslim. Perang dan pengepungan Madinah ini dikenal perang Khandaq, perang Parit juga perang Ahzab, bisa dikatakan juga perang adu kecerdasan, adu taktik perang, dan keberanian.
Hari demi hari terus berlalu membawa keuntungan bagi kaum Muslimin, pamor dan kekuasaan mereka semakin mantap. Dengan begitu, kaum Yahudi semakin naik amarah. Setelah kaum Yahudi ditimpa kehinaan juga pelecehan akibat dari perbuatannya sendiri yang berkhianat, berkonspirasi, tidak mau menerima dengan begitu saja. Setelah lari dari Khaibar, mereka menunggu apa yang akan terjadi menimpa kaum Muslimin sebagai akibat bentrokan fisik dengan para paganis Quraisy.
Kaum Quraisy senang hati, karena ada dua puluh pemimpin dan pemuka Yahudi dari kalangan Bani Nadhir yang menjumpai kaum Quraisy di Makkah. Tujuannya tidak lain memberi semangat dan siap membantu untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, mereka membuat perjanjian akan rencana ini dan mendukungnya. Penyambutan kaum Quraisy begitu luar biasa terhadap kaum Yahudi dan rencananya, Quraisy beranggapan bahwa ini suatu cara untuk mengembalikan pamornya lagi.
Kaum Yahudi kemudian mendatangi Ghathafan dan mengajak mereka seperti ajakan kepada kaum Quraisy di Makkah, ajakan dan rencana kaum Yahudi mendapat sambutan yang baik dari Ghathafan. Kemudian kaum Yahudi terus berkeliling ke kabilah-kabilah bangsa Arab, menyerukan perlawanan kepada kaum Muslimin yang pada saat itu sedang kuat pamor hasil dari kemenangan tiap perang. Rencana Yahudi semakin kuat setelah tiap kabilah Arab siap membantunya, ditambah dari kekuatan kaum Kafir untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalm.
Dari tiap kabilah secara serentak mengalir dari berbagai arah menuju Madinah, dengan pasukan yang siap perang. Dalam beberapa hari saja, di sekitar Madinah sudah berkumpul pasukan musuh kaum Muslimin yang jumlahnya sangat banyak. Kurang lebih sekitar sepuluh ribu prajurit musuh sudah berada disekitar kaum Muslimin, dengan rencana yang metang hasil dari kesepakatan yang mereka buat. Pasukan musuh yang berkumpul, melebihi dari semua penduduk Madinah pada saat itu
Jika pasukan musuh secara serentak dan tiba-tiba melakukan penyerangan, sulit dibayangkan kondisi kaum Muslimin pada saat itu mendapat kemenangan. Dari jumlah musuh yang sangat melebihi penduduk Madinah, secara logika mudah bagi mereka mengalahklan kaum Muslimin yang kalah dari pasukan. Namun model pemimpin Madinah tidak pernah lengah, segala pergerakan musuh sampai rencana merekapun tidak lepas dari pantauan. Sehingga sebelum secara serentak musuh masuk Madinah, informasi rencana itupun telah tercium di Madinah.
Dengan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengadakan permusyawarahan untuk menampung rencana pertahanan di Madinah, diskusi berjalan dengan panjang dan lebar yang menyepakati dari usuluan sahabat yang bernama Salman Al-Farisi. Usulan yang diberikan, “wahai Rasulullah, dulu jika kami bangsa Persia dalam keadaan terkepung musuh, maka kami membangun parit di sekitar kami.” Ini langkah yang teramat cerddik, disamping bangsa Arab sebelumnya belum mengenal dengan Parit itu.
Tidak lama dari itu, Rasulullah dengan segera membangun parit bersama para sahabat, setiap sepuluh sahabat laki-laki bertugas menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Bisa dilihat pada gambar dibawah dengan garis berwarna merah, menandakan tempat pembuatan parit guna melindungi Madinah dari kepungan musuh.
![]() |
| Perang Khandaq |
Dengan penuh semangat para sahabat menggali parit yang panjang, mereka tidak mempunyai seseorang yang dapat diupah untuk mengerjakan ini. Sehingga Rasulullah sendiri ikut berkeringat mengerjakan penggalian parit, dengan kondisi yang lemas, lapar, haus, disetiap harinya kaum Muslimin rasakan. Oleh karena itu Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah orang-orang Muhajirin dan Anshar.”
Tanda nubuwah yang terdapat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam yang salah satunya berkaitan dengan lapar yang dirasakan para sahabat selama pengerjaan pembuatan parit sering terjadi. Jabir bin Abdullah menyaksikan kondisi Nabi saat itu tersiksa karena lapar, sehingga Jabir menyembelih seekor hewan yang kemudian di masak oleh istrinya. Setelah hidangan masakan beres, Jabir membisiki Rasulullah secara pelan supaya tidak terdengar banyak sahabat untuk datang kerumahnya dengan beberapa orang sahabat, karena hidangan yang ada saat itu hanya untuk beberapa orang saja. Yang terjadi setelah mendengar dari Jabir, Rasulullah berdiri dihapan para sahabat yang sedang menggali parit dengan jumlah sekitar seribu orang untuk makan bersama-sama. Jabir yang khawatir makanannya yang sedikit itu, heran menyaksikan hidangan makanan yang dimakan banyak orang sempai mereka kenyang bahkan menyisakan daging dan pasakan yang lainnya.
Nubuwah yang lainnya dikatan oleh Al-Barra’, “Saat penggalian parit, dibeberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali oleh cangkul. Kemi menyampaikan hal ini kepadda Rasulullah, beliau datang mengampil cangkul dan bersabda, “Bismillah …. “ kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, “Allah maha besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat ini aku pun bisa melihat Istana Mada’in yang bercat putih.” Kenudian beliau menghantam lagi tanah untuk yang ketiga kalinya, dan bersabda, “Bismillah … “ Maka hancurlah tanah yang masih tersisa. Kemudian beliau bersabda, “Allah maha besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempat ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a.”
Posisi Madinah dikelilingi oleh gunung, tanah-tanah yang keras bebatuan, dan terdapat kebun kurma disetiap sudutnya, kecuali bagian utara Madinah, maka musuh dipastikan menyerbu Madinah dari arah utara. Sebagai pucuk pimpinan militer beliau betul-betul tahu akan hal ini, sehingga pembuatan parit difokuskan dibagian ini.
Mari lanjutkan ke artikel pembahasan Perang Khandaq II ...

0 komentar:
Post a Comment